4. Evaluasi Efisiensi Anggaran dan Skala Program
Harga satu unit becak listrik mencapai Rp22 juta. Dengan distribusi:
- 3.500 unit (2025)
- >4.000 unit kumulatif
Maka nilai ekonomi program ini secara nasional berada di kisaran >Rp88 miliar.

Dari sudut pandang kebijakan publik:
- Kelebihan: tepat sasaran, langsung produktif, minim moral hazard dibanding bantuan tunai.
- Kelemahan: risiko asset transfer, biaya perawatan, dan ketergantungan infrastruktur listrik.
Permintaan YGSI agar pemda mengawasi tidak memindahtangankan becak sangat relevan secara statistik, karena aset produktif bantuan sering berpindah tangan pada rumah tangga miskin jika tekanan ekonomi tinggi.
5. Implikasi terhadap PDRB dan Ekonomi Daerah
Secara makro, kontribusi becak listrik terhadap PDRB Kabupaten Cirebon memang kecil. Namun secara distribusi pendapatan, dampaknya signifikan karena:
- Menyasar kelompok pendapatan terbawah,
- Mengurangi working poverty pada lansia,
- Menjaga partisipasi kerja penduduk usia lanjut.
Ini sejalan dengan konsep inclusive growth, bukan sekadar pertumbuhan agregat.
Kesimpulan Kritis
Bantuan becak listrik di Kabupaten Cirebon adalah intervensi ekonomi mikro yang tepat sasaran, namun tidak boleh diperlakukan sebagai solusi tunggal. Tanpa:
- Manajemen lokasi wisata,
- Infrastruktur pengisian daya,
- Terminal khusus,
- Pengawasan aset,
maka klaim peningkatan pendapatan berisiko menjadi anekdot politis, bukan fakta statistik berkelanjutan.
Jika dikelola berbasis data dan evaluasi berkala, program ini berpotensi menjadi model nasional pemberdayaan lansia sektor informal.











