Menu ✖

Mode Gelap

News

Wisatawan Naik, Okupansi Hotel Kota Cirebon Tertekan

badge-check


					Wisatawan naik, okupansi hotel tertekan. Ilustrasi: Simetrik. Perbesar

Wisatawan naik, okupansi hotel tertekan. Ilustrasi: Simetrik.

Paradoks Pariwisata Kota Cirebon 2025

Kota Cirebon, Jawa Barat, sepanjang triwulan III 2025 menunjukkan gejala yang menarik sekaligus problematik. Di satu sisi, arus perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus) meningkat signifikan. Di sisi lain, kinerja industri perhotelan justru melemah, tercermin dari turunnya Tingkat Penghunian Kamar (TPK) dan memendeknya Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT).

Fenomena ini menjadi sinyal penting adanya pergeseran struktur permintaan pariwisata perkotaan yang tidak lagi otomatis menguntungkan sektor akomodasi.

 

Lonjakan Wisnus: Sinyal Permintaan yang Tidak Sederhana

Pada September 2025, jumlah perjalanan Wisnus ke Kota Cirebon tercatat 255,13 ribu perjalanan, meningkat 7 persen dibandingkan Agustus 2025 (238,44 ribu perjalanan). Secara statistik, kenaikan ini menandai pemulihan pasca perlambatan musiman Juli–Agustus, yang lazim dipengaruhi pola libur sekolah dan penyesuaian konsumsi rumah tangga.

Dari perspektif ekonomi pariwisata, kenaikan ini menunjukkan bahwa Cirebon tetap kompetitif sebagai destinasi regional Ciayumajakuning, khususnya untuk:

  • wisata kuliner, 
  • wisata belanja, 
  • kunjungan keluarga (VFR: visiting friends and relatives). 

Namun, sebagai statistisi, perlu dicatat satu hal krusial: indikator perjalanan (trip-based) tidak identik dengan indikator tinggal (stay-based). Di sinilah akar paradoks mulai terlihat.

 

Okupansi Hotel: Permintaan Nyata Justru Melemah

Meskipun Wisnus naik, TPK hotel gabungan bintang dan nonbintang di Kota Cirebon pada September 2025 hanya 38,47 persen, turun 8,58 poin (year-on-year). Secara bulanan, kenaikannya nyaris stagnan (+0,01 poin).

Jika diurai:

  • Hotel bintang: TPK 45,07 persen, turun 13,25 poin (yoy) dan 0,88 poin (mtm) 
  • Hotel nonbintang: TPK 23,22 persen, turun tipis 0,84 poin (yoy) namun naik 2,05 poin (mtm) 

Secara struktural, ini mengindikasikan oversupply kamar, khususnya di segmen hotel bintang, yang tidak diimbangi oleh permintaan menginap. Argumen “wisatawan ramai → hotel penuh” terbukti tidak lagi linier.

Bisa jadi masalahnya bukan semata perilaku wisatawan, melainkan ekspansi hotel yang terlalu optimistis pasca-pandemi, tanpa mempertimbangkan perubahan pola mobilitas dan preferensi akomodasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Harga Bahan Pokok di Jabar Naik Jelang Nataru 2026, Pemprov Pantau Ketat

20 Desember 2025 - 08:15 WIB

Harga bahan pokok naik jelang Nataru. Ilustrasi: Simetrik.

Becak Listrik di Kabupaten Cirebon: Dampak Ekonomi Lansia

19 Desember 2025 - 21:03 WIB

Becak listrik: dampak ekonomi lansia. Ilustrasi: Simetrik.

Kelayakan SPPG Cirebon Hambat Target Makan Bergizi Gratis

16 Desember 2025 - 19:23 WIB

Bottleneck struktural program MBG. Ilustrasi: Simetrik.

Contoh Soal dan Jawaban Tes SJT Sesi 1 PPG Daljab Guru Kelas

11 Desember 2025 - 13:35 WIB

Soal dan pembahasan tes SJT PPG. Ilustrasi: Simetrik.

Struktur Ekonomi Kabupaten Cirebon 2020–2024

9 Desember 2025 - 17:32 WIB

Modernisasi pertanian melalui mekanisasi dan digital farming. Ilustrasi: Simetrik.
Trending di News