Evaluasi WJIS sebagai Instrumen Pemerataan Investasi
WJIS (West Java Investment Summit) digambarkan sebagai pendorong pemerataan. Namun dari kacamata evaluasi kebijakan publik, perlu kita tanyakan:
A. Apakah pipeline proyek benar-benar terealisasi?
Sering kali acara semacam ini menghasilkan komitmen investasi (investment commitment), bukan realisasi.
Statistik BKPM perlu dipadukan untuk mengukur conversion rate proyek WJIS.

B. Apakah proyek investasi berdampak ke PDRB, tenaga kerja, dan kesejahteraan?
Tanpa indikator outcome, WJIS hanya menambah noise pada ekosistem informasi investasi.
Ketimpangan Utara–Selatan: Hambatan Utama Pemerataan
Data historis menunjukkan bahwa investasi di Jawa Barat sangat terkonsentrasi di kawasan utara seperti Bekasi, Karawang, Subang, dan kawasan industri sekitar Pelabuhan Patimban. Sementara itu, wilayah selatan cenderung tertinggal karena bergantung pada pariwisata dan pertanian yang rentan terhadap fluktuasi musim dan infrastruktur. Hal ini menunjukkan pola investasinya tidak merata.
Pola investasi di Jawa Barat selama 10 tahun terakhir (data BKPM kabupaten/kota) menunjukkan:
- >70% realisasi investasi PMA–PMDN terkonsentrasi di Bekasi–Karawang–Purwakarta–Subang
- Wilayah selatan seperti Sukabumi, Garut, Tasikmalaya berkontribusi <5%
Sementara itu, BPS mencatat bahwa kabupaten/kota di wilayah selatan memiliki:
- PDRB per kapita lebih rendah
- Struktur ekonomi didominasi pertanian dan jasa tradisional
- Rasio infrastruktur dasar lebih rendah
Ini menjelaskan mengapa pemerataan investasi sebagai prasyarat ketahanan ekonomi menjadi agenda prioritas.
Risiko jika ketimpangan berlanjut:
- Pertumbuhan ekonomi tidak inklusif → kualitas pertumbuhan menurun (gini rasio wilayah meningkat).
- Ketahanan ekonomi terganggu karena bergantung pada manufaktur utara yaitu
satu koridor industri → rentan pada guncangan global - Wilayah selatan sulit mengejar transformasi ekonomi: pengangguran dan kemiskinan wilayah selatan stagnan → berpotensi menahan laju pertumbuhan PDRB provinsi.
- Kesenjangan pendapatan wilayah makin melebar
Dengan demikian, narasi pemerataan yang diangkat WJIS sangat relevan. Namun kita harus tetap menguji klaim keberhasilan melalui indikator objektif, seperti:
- Indeks Williamson (ketimpangan spasial)
- Share investasi PMA/PMDN per kabupaten/kota
- Perubahan struktur tenaga kerja wilayah selatan
- Dampak langsung investasi terhadap PDRB kabupaten selatan
- Pertumbuhan sektor pertanian dan pariwisata sebagai “green economy”
Pemerataan investasi bukan hanya soal membagi proyek ke daerah. Tetapi memastikan setiap wilayah memiliki prasyarat dasar untuk menyerap investasi secara produktif sehingga menjadi output nyata.
Potensi Green Economy di Jabar Selatan: Menjanjikan, Tapi Rentan
Investasi berbasis ekonomi hijau di selatan sering disebut sebagai salah satu solusi pemerataan. Jawa Barat selatan kerap didorong sebagai pusat green economy melalui sektor pariwisata dan pertanian.
Arah investasi sektor hijau di Jabar Selatan—pariwisata dan pertanian, kita perlu mengujinya dari sisi:
- Return on Investment (ROI) sektor pariwisata sangat tergantung aksesibilitas dan sarana prasarana.
- Produktivitas sektor pertanian di wilayah selatan masih relatif rendah daripada kawasan pantura.
- Secara empiris, ICOR sektor pertanian biasanya rendah, tetapi kontribusi output-nya juga kecil.
Dengan kata lain, kita perlu mengukur investasi di selatan bukan hanya dari narasi “green economy”, tapi:
- Dampak PDRB sektoral (Lapangan Usaha)
- Elastisitas penyerapan tenaga kerja
- Potensi supply chain yang terhubung dengan industri di utara
Data Dinas Pariwisata & Bappeda Jabar menunjukkan bahwa kawasan selatan memiliki potensi:
- Pariwisata alam
- Pertanian dan hortikultura
- Energi terbarukan (mikrohidro dan geothermal)
Namun tanpa dukungan:
- Logistik (BPS: Indeks Pembangunan Infrastruktur)
- Keberlanjutan lingkungan
- Produktivitas tenaga kerja (BPS: Sakernas)
maka green investment tidak otomatis memberikan multiplier effect yang besar.
Meski potensinya besar, pendekatan data menunjukkan beberapa risiko:
- ROI rendah jika infrastruktur belum memadai
- Pariwisata sangat sensitif pada musim dan bencana alam
- Pertanian memiliki produktivitas yang fluktuatif
- Konektivitas dengan industri hulu–hilir. Rantai pasok belum terintegrasi dengan kawasan industri di utara.
- Tenaga kerja terampil yang terbatas
Tanpa ekosistem pendukung, investasi di sektor hijau (green economy) justru berpotensi menghasilkan return rendah dan tidak meningkatkan PDRB secara signifikan.
Pemerataan Investasi Perlu Basis Data, Bukan Sekadar Agenda Politik
Untuk memastikan pemerataan benar-benar terjadi, kebijakan investasi perlu berbasis pada indikator yang objektif:
- Ketimpangan spasial (Indeks Williamson)
- Share investasi berdasarkan kabupaten/kota
- Kontribusi investasi terhadap PDRB sektoral
- Dampak terhadap tenaga kerja
- Pertumbuhan ekonomi wilayah selatan vs utara
Tanpa indikator jelas dan evaluasi berkala, wacana pemerataan investasi rawan menjadi slogan tanpa implementasi.









